- Tuak Secara
umum
Bangsa Indonesia memiliki beragam budaya
dan adat istiadat. Adanya keanekargaman budaya tersebut, maka Indonesia juga
memiliki beragam makanan dan minuman tradisional. Salah satu minuman
tradisional Indonesia adalah tuak. Tuak yang lebih dikenal sebagai minuman khas
suku Batak Toba. Di beberapa daerah di Indonesia juga mengenal yang namanya
tuak, tetapi lain daerah maka lain pula penamaan akan minuman ini. Misalnya
seperti didaerah jawa, masyarakat menyebut nya lapen atau ciu. Di Menado
orang-orang mengenalnya dengan sebutan cap
tikus, di Sumba disebut peci, di
Ambon disebut sageru atau saguer. Perbedaan nama juga mempengaruhi
akan rasa, warna ataupun kadar alkoholnya. Tuak adalah semacam bir alam yang
terbuat dari air nira yang sudah diresep. Resep khusus terbuat dari kulit
kayu yang disebut raru. Apabila air nira sudah dicampur dengan kulit kayu itu selama
semalam, terjadilah reaksi kimia yang membuatnya warnanya berubah putih, dan
rasanya pahit beralkohol.[1]
Kebanyakan orang Indonesia yang beragama Islam tidak minum minuman yang
mengandung alkohol berazaskan ajaran agama tersebut. Akan tetapi tuak berposisi
sebagai minuman khas Batak Toba, karena sebagian besar orang Batak Toba
menganut agama Kristen yang tidak “memantang” minuman keras. Dalam budaya Batak
Toba, tuak dijadikan sebagai minuman adat. Dalam upacara-upacara ataupun pesta
adat, tuak sering disajikan bersama dengan air minum. Dan terkadang jika tidak
ada tuak, maka tidak akan nikmat pesta ataupun upacara tersebut. Bahkan dahulu
sebelum berkembangnya zaman dan teknologi seperti sekarang ini, tuak dijadikan
sebagai “anggur” perjamuan di gereja. Maka kalau boleh dikatakan peranan tuak
sangatlah besar bagi bangsa Batak. Sebelum mengenal kekristenan, di daerah
Batak Toba yaitu di tepian danau Toba (P. Samosir ) tuak digunakan sebagai
salah satu syarat terhadap pemujaan roh nenek moyang. Pada upacara pemujaan
yang dipimpin oleh seorang datu (
dukun ) tuak disajikan dengan sesajen yang lain, seperti ayam, beras, sirih
pinang, dan lain sebagainya. Upacara pemujaan ini biasanya untuk meminta berkat
ataupun kesehatan. Pemujaan juga bisa dilakukan untuk meminta kesuburan tanah
agar mendapat hasil panen yang melimpah. Pada waktu sekarang ini, setelah
berkembangnya zaman dan teknologi, tuak
lebih dijadikan sebagai minuman ssehari-hari. Hal ini terjadi dikarenakan
banyaknya lapo ( warung ) yang
menjajakan minuman ini, tidak hanya di kampung-kampung tetapi banyak juga di
wilayah perkotaan. Bahkan ada orang-orang yang harus minum tuak, jika tidak
minum tuak dalam satu hari saja, maka tubuhnya akan sakit dan pegal-pegal.
- Pengertian Tuak
dalam Masyarakat Batak Toba
Tuak adalah merupakan air sadapan dari pohon bagot (enau). Air sadapan enau tidak
langsung disebut dengan tuak, melainkan ditambah dengan resep atau bumbu yang
diambil dari batang atau kulit kayu yang disebut raru. Raru atau kulit kayu
inilah yang menjadikan tuak itu menjadi pahit, dan bisa memabukkan. Dalam
budaya batak Toba, tuak tidaklah asing lagi untuk disajikan di tempat-tempat
umum, misalnya dalam acara adat (sukacita dan dukacita). Pada sebagian daerah
di sumatera utara, khususnya wilayah Danau Toba (Pulau Samosir) tuak telah
menjadi minuman sehari-hari. Daerah Danau Toba yang mayoritas penduduknya adalah
petani dan nelayan, menjadikan minuman ini (tuak) sebagai penambah tenaga, atau
sebagai penambah selera makan. Hal ini merupakan telah menjadi tradisi pada
daerah ini. Pada daerah ini, tuak sangat mudah didapatkan, karena ada
warung-warung khusus yang menjual minuman ini. Pada tahun 1997, harga segelas
tuak adalah Rp. 300.[2]
Dengan harga yang relatif murah, maka tuak menjadi minuman favorit di daerah
Samosir. Kalau laki-laki, baik yang muda maupun yang tua minum tuak di kedai,
tetapi jarang terdapat perempuan yang minum tuak di kedai bersama laki-laki,
kecuali pemilik kedai atau isterinya. Ada juga laki-laki yang membeli tuak di
kedai dan membawa botol yang berisi tuak ke rumahnya atau ke rumah kawannya
untuk minum tuak di situ. Oleh karena itu penikmat minuman ini adalah
laki-laki, dan jarang terdapat wanita. Minuman ini sering dinikmati laki-laki
batak pada sore hari, menjelang malam. Dan sering juga dibawa ke ladang atau
sawah pada siang hari, yang diminum pada waktu istirahat atau sesudah makan
siang. Namun tidak jarang juga setelah minum tuak, mengakibatkan kemabukan pada
sipeminumnya. Hal ini sering terjadi, jika tidak ada kontrol diri pada mereka.
Tidak jarang juga terjadi perkelahian akibat dari tuak. Dengan adanya efek
negatif yang ditinggalkannya, maka sering orang-orang menyebut orang batak si jago minum.
Meskipun jarang kaum wanita batak minum tuak, namun
tidaklah ada larangan atau aturan bagi mereka untuk tidak minum tuak. Ada saat-
saat tertentu wanita batak harus minum tuak, meskipun hanya sebagai simbol atau
formalitas saja. Namun demikian, menurut tradisi Batak Toba, wanita yang baru
melahirkan anak minum tuak untuk memperlancar air susunya dan berkeringat
banyak guna mengeluarkan kotoran-kotoran dari badannya. Tetapi tidak tentu
semua wanita Batak Toba yang baru melahirkan anak minum tuak. Tuak yang diminum
ataupun yang diberikan tidaklah sembarang, melainkan merupakan tuak yang
rasanya manis.[3]
Tuak ini biasanya dimbil langsung dari pohonnya dan belum diberi obat ataupun
“resep”, yang telah disaring atau dibersihakan terlebih dahulu. Berbeda dengan
yang disajikan di warung-warung yang rasanya lumayan pahit. Wanita-wanita yang
tinggal di kota atau di perantauan seperti Medan biasanya tidak minum tuak,
walaupun melahirkan anak. Mereka lebih cenderung minum susu atau obat sesuai
dengan kemampuannya dan kesukaannya untuk memperlancar air susunya. Wanita tua
pada umumnya mengakui bahwa mereka minum tuak ketika melahirkan anak semasa
mudanya. Tetapi sebagian wanita muda yang tinggal di kampung tidak pernah minum
tuak selama menyusui anaknya. Maka seiring pekembangan zaman, tradisi seperti
ini sudah jarang terjadi, apalagi pada masyarakat batak yang tinggal di
perantauan.
- Penggunaan Tuak
dalam Upacara Adat
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tuak
merupakn salah satu faktor penting dalam upacara adat Batak Toba. Namun tuak
yang dipakai dalam upacara adat, biasanya adalah tuak tangkasan ( tuak manis ), yaitu sama dengan tuak yang diberikan
pada wanita yang telah melahirkan. Karena tuak itu berasal dari pohon bagot ( enau), maka perlu diketahui
legenda keberadaan pohon bagot. Seorang tokoh adat yang tinggal di tepian Danau
Toba ( Pulau Samosir ) memberitahukan legenda tersebut sebagai berikut, putri
si boru Sorbajati dipaksa orang tuanya kawin dengan seorang laki-laki cacat
yang tidak disukainya. Tetapi karena tekanan orang tua yang sudah menerima uang
mahal, si boru Sorbajati meminta agar dibunyikan gendang di mana dia menari dan
akan menentukan sikap. Sewaktu menari di rumah, tiba-tiba dia melompat ke
halaman sehingga terbenam ke dalam tanah. Kemudian dia menjelma tumbuh sebagai
pohon bagot, sehingga tuak itu disebut aek
(air) Sorbajati Karena perbuatan yang membunuh diri itu dianggap sebagai
perbuatan terlarang, maka tuak tidak dimasukkan pada sajian untuk Dewata. Tuak
hanya menjadi sajian untuk roh-roh nenek moyang, orang yang sudah meninggal dan
sebagainya. Tuak termasuk sebagai minuman adat pada dua upacara adat resmi
Dalam budaya Batak Toba khususnya upacara adat, upacara yang menggunakan tuak sebagai
faktor penting. Upacara-upacara tersebut adalah
(1) upacara manuan ompu-ompu dan (2) upacara manulangi. [4]
- Upacara manuan ompu-ompu.
Adalah upacara penguburan kepada orang tua (lanjut
usia), yang telah memiliki cucu. Ketika orang yang sudah bercucu meninggal,
ditanam beberapa jenis tanaman di atas tambak (kuburan). Tambak pada aslinya
merupakan kuburan dari tanah yang terlapis, tetapi kuburan modern yang
terbentuk dari semen pula disebut tambak. Menurut aturan adat, air dan tuak
harus dituangkan pada tanaman di atas tambak. Upacara ini diadakan setelah
selesai ibadah panguburan, yang dipimpin oleh pendeta atau majelis gereja
setempat. Tetapi sekarang ini biasanya yang dituangkan hanya air saja, atau
paling-paling tuak yang mengandung alkohol.
- Upacara manulangi.
Adalah upacara memberi makan kepada orang tua
(kakek dan nenek), sebelum mereka meninggal. Upacara ini biasanya harus
dihadiri oleh seluruh keturunannya. Dalam upacara manulangi, para keturunan
dari orang tua tersebut memberikan makanan secara resmi kepada orang tua
tersebut yang sudah bercucu, dimana turunannya meminta restu, nasehat dan
pembagian harta, disaksikan oleh pengetua-pengetua adat. Pada waktu memberikan
makanan harus disajikan air minum serta tuak. Menurut informasi dari tokoh-tokoh
adat air minum dan tuak dua-duanya tetap disajikan kepada orang tua yang
disulangi.
Pentingnya tuak pada zaman dahulu dan masa sekarang, membuat sebagian
kalangan menjadi pecandu tuak. Tuak yang digolongkan juga sebagai minuman
keras, yang mengandung kadar alkohol sekitar 25%. Dalam satu segi, tuak
dianggap sangat penting yaitu pada sebagian masyarakat Batak Toba. Masyarakat
batak Toba yang tinggal di kampung ataupun perkotaan tidak bisa lepas dari
tuak. Namun pada sebagian kalangan tuak dianggap sebagai minuman yang bisa
memabukkan dan harus dibatasi pergerakan minuman ini
