Cari Blog Ini

Senin, 12 November 2012

Tuak





  1. Tuak Secara umum
Bangsa Indonesia memiliki beragam budaya dan adat istiadat. Adanya keanekargaman budaya tersebut, maka Indonesia juga memiliki beragam makanan dan minuman tradisional. Salah satu minuman tradisional Indonesia adalah tuak. Tuak yang lebih dikenal sebagai minuman khas suku Batak Toba. Di beberapa daerah di Indonesia juga mengenal yang namanya tuak, tetapi lain daerah maka lain pula penamaan akan minuman ini. Misalnya seperti didaerah jawa, masyarakat menyebut nya lapen atau ciu. Di Menado orang-orang mengenalnya dengan sebutan cap tikus, di Sumba disebut peci, di Ambon disebut sageru atau saguer. Perbedaan nama juga mempengaruhi akan rasa, warna ataupun kadar alkoholnya. Tuak adalah semacam bir alam yang terbuat dari air nira yang sudah diresep. Resep khusus terbuat dari kulit kayu  yang disebut raru. Apabila air nira sudah dicampur dengan kulit kayu itu selama semalam, terjadilah reaksi kimia yang membuatnya warnanya berubah putih, dan rasanya pahit beralkohol.[1] Kebanyakan orang Indonesia yang beragama Islam tidak minum minuman yang mengandung alkohol berazaskan ajaran agama tersebut. Akan tetapi tuak berposisi sebagai minuman khas Batak Toba, karena sebagian besar orang Batak Toba menganut agama Kristen yang tidak “memantang” minuman keras. Dalam budaya Batak Toba, tuak dijadikan sebagai minuman adat. Dalam upacara-upacara ataupun pesta adat, tuak sering disajikan bersama dengan air minum. Dan terkadang jika tidak ada tuak, maka tidak akan nikmat pesta ataupun upacara tersebut. Bahkan dahulu sebelum berkembangnya zaman dan teknologi seperti sekarang ini, tuak dijadikan sebagai “anggur” perjamuan di gereja. Maka kalau boleh dikatakan peranan tuak sangatlah besar bagi bangsa Batak. Sebelum mengenal kekristenan, di daerah Batak Toba yaitu di tepian danau Toba (P. Samosir ) tuak digunakan sebagai salah satu syarat terhadap pemujaan roh nenek moyang. Pada upacara pemujaan yang dipimpin oleh seorang datu ( dukun ) tuak disajikan dengan sesajen yang lain, seperti ayam, beras, sirih pinang, dan lain sebagainya. Upacara pemujaan ini biasanya untuk meminta berkat ataupun kesehatan. Pemujaan juga bisa dilakukan untuk meminta kesuburan tanah agar mendapat hasil panen yang melimpah. Pada waktu sekarang ini, setelah berkembangnya zaman dan teknologi,  tuak lebih dijadikan sebagai minuman ssehari-hari. Hal ini terjadi dikarenakan banyaknya lapo ( warung ) yang menjajakan minuman ini, tidak hanya di kampung-kampung tetapi banyak juga di wilayah perkotaan. Bahkan ada orang-orang yang harus minum tuak, jika tidak minum tuak dalam satu hari saja, maka tubuhnya akan sakit dan pegal-pegal.
  1. Pengertian Tuak dalam Masyarakat Batak Toba
Tuak adalah merupakan air sadapan dari pohon bagot (enau). Air sadapan enau tidak langsung disebut dengan tuak, melainkan ditambah dengan resep atau bumbu yang diambil dari batang atau kulit kayu yang disebut raru. Raru atau kulit kayu inilah yang menjadikan tuak itu menjadi pahit, dan bisa memabukkan. Dalam budaya batak Toba, tuak tidaklah asing lagi untuk disajikan di tempat-tempat umum, misalnya dalam acara adat (sukacita dan dukacita). Pada sebagian daerah di sumatera utara, khususnya wilayah Danau Toba (Pulau Samosir) tuak telah menjadi minuman sehari-hari. Daerah Danau Toba yang mayoritas penduduknya adalah petani dan nelayan, menjadikan minuman ini (tuak) sebagai penambah tenaga, atau sebagai penambah selera makan. Hal ini merupakan telah menjadi tradisi pada daerah ini. Pada daerah ini, tuak sangat mudah didapatkan, karena ada warung-warung khusus yang menjual minuman ini. Pada tahun 1997, harga segelas tuak adalah Rp. 300.[2] Dengan harga yang relatif murah, maka tuak menjadi minuman favorit di daerah Samosir. Kalau laki-laki, baik yang muda maupun yang tua minum tuak di kedai, tetapi jarang terdapat perempuan yang minum tuak di kedai bersama laki-laki, kecuali pemilik kedai atau isterinya. Ada juga laki-laki yang membeli tuak di kedai dan membawa botol yang berisi tuak ke rumahnya atau ke rumah kawannya untuk minum tuak di situ. Oleh karena itu penikmat minuman ini adalah laki-laki, dan jarang terdapat wanita. Minuman ini sering dinikmati laki-laki batak pada sore hari, menjelang malam. Dan sering juga dibawa ke ladang atau sawah pada siang hari, yang diminum pada waktu istirahat atau sesudah makan siang. Namun tidak jarang juga setelah minum tuak, mengakibatkan kemabukan pada sipeminumnya. Hal ini sering terjadi, jika tidak ada kontrol diri pada mereka. Tidak jarang juga terjadi perkelahian akibat dari tuak. Dengan adanya efek negatif yang ditinggalkannya, maka sering orang-orang menyebut orang batak si jago minum.
Meskipun jarang kaum wanita batak minum tuak, namun tidaklah ada larangan atau aturan bagi mereka untuk tidak minum tuak. Ada saat- saat tertentu wanita batak harus minum tuak, meskipun hanya sebagai simbol atau formalitas saja. Namun demikian, menurut tradisi Batak Toba, wanita yang baru melahirkan anak minum tuak untuk memperlancar air susunya dan berkeringat banyak guna mengeluarkan kotoran-kotoran dari badannya. Tetapi tidak tentu semua wanita Batak Toba yang baru melahirkan anak minum tuak. Tuak yang diminum ataupun yang diberikan tidaklah sembarang, melainkan merupakan tuak yang rasanya manis.[3] Tuak ini biasanya dimbil langsung dari pohonnya dan belum diberi obat ataupun “resep”, yang telah disaring atau dibersihakan terlebih dahulu. Berbeda dengan yang disajikan di warung-warung yang rasanya lumayan pahit. Wanita-wanita yang tinggal di kota atau di perantauan seperti Medan biasanya tidak minum tuak, walaupun melahirkan anak. Mereka lebih cenderung minum susu atau obat sesuai dengan kemampuannya dan kesukaannya untuk memperlancar air susunya. Wanita tua pada umumnya mengakui bahwa mereka minum tuak ketika melahirkan anak semasa mudanya. Tetapi sebagian wanita muda yang tinggal di kampung tidak pernah minum tuak selama menyusui anaknya. Maka seiring pekembangan zaman, tradisi seperti ini sudah jarang terjadi, apalagi pada masyarakat batak yang tinggal di perantauan.
  1. Penggunaan Tuak dalam Upacara Adat
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tuak merupakn salah satu faktor penting dalam upacara adat Batak Toba. Namun tuak yang dipakai dalam upacara adat, biasanya adalah tuak tangkasan ( tuak manis ), yaitu sama dengan tuak yang diberikan pada wanita yang telah melahirkan. Karena tuak itu berasal dari pohon bagot ( enau), maka perlu diketahui legenda keberadaan pohon bagot. Seorang tokoh adat yang tinggal di tepian Danau Toba ( Pulau Samosir ) memberitahukan legenda tersebut sebagai berikut, putri si boru Sorbajati dipaksa orang tuanya kawin dengan seorang laki-laki cacat yang tidak disukainya. Tetapi karena tekanan orang tua yang sudah menerima uang mahal, si boru Sorbajati meminta agar dibunyikan gendang di mana dia menari dan akan menentukan sikap. Sewaktu menari di rumah, tiba-tiba dia melompat ke halaman sehingga terbenam ke dalam tanah. Kemudian dia menjelma tumbuh sebagai pohon bagot, sehingga tuak itu disebut aek (air) Sorbajati Karena perbuatan yang membunuh diri itu dianggap sebagai perbuatan terlarang, maka tuak tidak dimasukkan pada sajian untuk Dewata. Tuak hanya menjadi sajian untuk roh-roh nenek moyang, orang yang sudah meninggal dan sebagainya. Tuak termasuk sebagai minuman adat pada dua upacara adat resmi Dalam budaya Batak Toba khususnya upacara adat, upacara yang menggunakan tuak sebagai faktor penting. Upacara-upacara tersebut adalah  (1) upacara manuan ompu-ompu dan (2) upacara manulangi. [4]
  • Upacara manuan ompu-ompu.
Adalah upacara penguburan kepada orang tua (lanjut usia), yang telah memiliki cucu. Ketika orang yang sudah bercucu meninggal, ditanam beberapa jenis tanaman di atas tambak (kuburan). Tambak pada aslinya merupakan kuburan dari tanah yang terlapis, tetapi kuburan modern yang terbentuk dari semen pula disebut tambak. Menurut aturan adat, air dan tuak harus dituangkan pada tanaman di atas tambak. Upacara ini diadakan setelah selesai ibadah panguburan, yang dipimpin oleh pendeta atau majelis gereja setempat. Tetapi sekarang ini biasanya yang dituangkan hanya air saja, atau paling-paling tuak yang mengandung alkohol.
  • Upacara manulangi.
Adalah upacara memberi makan kepada orang tua (kakek dan nenek), sebelum mereka meninggal. Upacara ini biasanya harus dihadiri oleh seluruh keturunannya. Dalam upacara manulangi, para keturunan dari orang tua tersebut memberikan makanan secara resmi kepada orang tua tersebut yang sudah bercucu, dimana turunannya meminta restu, nasehat dan pembagian harta, disaksikan oleh pengetua-pengetua adat. Pada waktu memberikan makanan harus disajikan air minum serta tuak. Menurut informasi dari tokoh-tokoh adat air minum dan tuak dua-duanya tetap disajikan kepada orang tua yang disulangi.

Pentingnya tuak pada zaman dahulu dan masa sekarang, membuat sebagian kalangan menjadi pecandu tuak. Tuak yang digolongkan juga sebagai minuman keras, yang mengandung kadar alkohol sekitar 25%. Dalam satu segi, tuak dianggap sangat penting yaitu pada sebagian masyarakat Batak Toba. Masyarakat batak Toba yang tinggal di kampung ataupun perkotaan tidak bisa lepas dari tuak. Namun pada sebagian kalangan tuak dianggap sebagai minuman yang bisa memabukkan dan harus dibatasi pergerakan minuman ini




(Tulisan ini hanya sekedar referensi dan masih jauh dari sempurna)

[1] E.H. Tambunan, Sekelumit Mengenai Masyarakat Batak Toba Dan Kebudayaannya sebagai sarana pembangunan ( Tarsito Bandung, 1982 )
[2] http://www.nainggolan.net/index.php?
[3] http://www.nainggolan.net/index.php?
[4] ibid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar